Dulu
amanat itu pernah aku emban dan sempat aku jalankan walaupun dengan penuh rasa
takut, tapi pada saat itu aku yakin kalau aku bisa untuk menjalankan sebuah
amanat itu, perlahan namun pasti butiran masalah terus menghampiri hidupku di
tempat baru ini, dan pada saat itu hatiku berontak, aku sungguh tak kuasa untuk
menahannya hingga aku putuskan untuk pergi menjauh dari mereka yang telah
mengusik kehidupanku.
Aku
menjalani hari-hariku penuh dengan kesedihan, sendiri itulah posisiku pada saat
itu. Mungkin tak ada orang lain yang tahu apa yang aku rasakan pada waktu itu,
namun perlahan aku membuka mulutku untuk sedikit bercerita kepada teman baruku
yang berinisial “S”. Sedikit lega dan hampa hatiku pada saat itu.
The
first journey in my life, akhirnya setelah beberapa minggu aku singgah disana,
kini aku telah menemukan sosok teman yang baru yang dapat mengisi hari-hariku
agar berubah menjadi berwarna kembali setelah beberapa hari ini pudar karena
butiran-butiran masalah itu. Mungkin mengenal kalian merupakan anugerah
terindah yang dikirim Allah untukku pada saat itu. Dengan watak, sifat,
karakter yang berbeda-berbeda yang harus aku jalani. Canda, tawa, menyelimuti
hari-hariku pada waktu itu.
Walaupun
sering terjadi pertengkaran kecil, namun yang pada akhirnya tetap diantara kita
harus ada yang mengalah, akhirnya kita bisa kembali seperti sedia kala, bisa
diibaratkan seperti es batu yang lalu kemudian mencair, begitulah kita. Hari
libur yaitu hari jum’at kami habiskan untuk mengisinya dengan “adventure” itu peribahasa
kami. Dengan nyali yang sangat besar dan keyakinan yang sangat besar kami
memutuskan untuk pergi kesebuah tempat yang mungkin memang orang lain jarang
mengunjunginya termasuk para penghuni kampung nan damai ini.
Hari
berganti hari, perubahanku semakin terlihat dan aku sadari itu semua, namun
entahlah apa yang harus aku lakukan pada saat itu karena aku benar-benar
bingung, sebal dan juga kesal. Perubahanku bukan menjadi yang lebih baik akan
tetapi menjadi yang lebih buruk. Malas itu menjadi kunci utamaku, yah itu aku
malas karena satu faktor itu sebutir masalah yang membuatku seperti ini.
Singkat
saja, pemilhan kader himpunan mahasiswi pun akan diadakan pada malam itu, dalam
hati kecilku ada rasa partisipasi untuk mengikuti interview dengan para senior-senior
yag telah siap dengan segudang pertanyaan untuk para calon-calon kader penerus
generasi berikutnya, yah memang ini sudah merupakan adat istiadat di kampung
nan damai ini, “SIAP MEMIMPIN DAN SIAP DIPIMPIN”. Maka aku
persiapkan diriku semaksimal mungkin agar aku bisa menjawab seluruh pertanyaan
yang diberikan senior kepadaku, “PEDE”alias percaya diri itu kuncinya. Yah toh
memang dari dulu aku kan pede orangnya, haha :D
Satu
minggu setelah interview tiba-tiba ada sebuah surat di atas lemariku, dengan
ucap “BASMALLAH” aku membukanya secara perlahan, telah tercantum
dibagian berkop atas surat tertulis “SURAT PENGANGKATAN BAGIAN HIMPUNAN
MAHASISWI” ananda Bella Yoriska Firdaus, perlahan aku baca hingga
sampai di bagian tengah aku membaca sebuah tulisan yang bertuliskan namaku
“Bella Yoriska Firdaus sebagai bagian keilmuan”. Betapa hati ini terkejut dan
bahagia juga akhirnya apa yang aku inginkan bisa tercapai atas jerih payahku
pada saat interview itu, yah intinya sih modal utamanya PEDE” haha :D
Hari telah
berlalu, ketika sedang ada acara mingguan kampus di season terakhir namaku dan
juga yang berinisial “F” dipanggil untuk menetap di musholla setelah acara
selesai, deg hatiku bertanya-tanya “ada apa ya?” batinku. Rasa penasaran kini
menghantuiku bersama dengan temanku. Dan pada akhirnya seperti biasa kakak
senior chief of HM memberi tahu kami, bahwa kami mewakili semester 1 diutus
untuk mengikuti acara kegiatan bakti sosial. Rasa kagum, bangga dan bahagia
menyelimutiku pada saat itu, karena sesungguhnya aku memang tak akan pernah
menyangka sebelumnya kalau aku terpilih dari beberapa teman-temanku yang
lainnya. Aku teringat akan sebuah pesan dari ayahanda yaitu ustad hidayat,
beliau pernah berkata: “kalian dipilih bukan karena kalian hebat, tetapi
kalian dipilih karena kalian dipercaya!” . ini merupakan sebuah
pengalaman baru untukku yang baru saja menginjakkan kakiku sebagai MAHASISWI,
ternyata beginilah menjadi mahasiswi itu. Pada acara bakti sosial ini aku bisa
menilai dan yah bisa dibilang untuk pelajaran agar kedepannya jika mengadakan
acara tersebut, harus dengan persiapan dan kesiapan yang sangat matang. Di sini
aku mulai bisa mengenal dan sekaligus berkenalan dengan kakak-kakak seniorku,
ternyata jauh dari apa yang aku kira, mereka ternyata asik, baik, rame, kocak,
de el el. Aku bahagia dan aku merasa senang bisa berkenalan dengan mereka. This
is unforgetable experience for me J.
Hari-hariku
lewati dengan persinggahan di tempat orang lain, terkadang aku iri, sedih,
sebal kesal melihat kebersamaan mereka di tempat persinggahanku yang sebenarnya,
“harusnya aku yang berada di tempat itu dan ikut bergabung didalamnya” batinku.
Tapi apalah daya, sudahlah mungkin akan ada waktunya dimana aku akan
menginjakkan kakiku dan kembali singgah di persinggahanku yang sebenarnya.
Bagaimana hubunganku dengan teman-teman baruku? Satu persatu mereka pergi untuk
kembali ketempat asalnya masing-masing. Tetapi aku tetap singgah di tempat itu
bersama “I”, “Q”. Lama-kelamaan aku mulai merasa risih hidup bersama mereka,
mungkin karena mereka terlahir sudah hidup royal kali ya... zzzz”.
Dan
pada akhirnya yah memang mungkin harus diselesaikan butiran masalah itu,
akhirnya aku memutuskan untuk menyelesaikannya. Memang pada saat itu aku tak
punya modal apa-apa, tetapi hanya sebuah keyakinan dan kebenaran saja yang aku
miliki pada waktu itu. Dengan tekad yang kuat akhirnya aku bisa menyelesaikan
masalah ini. “F” menyuruhku untuk pulang ke persinggahan yang sebenarnya, namun
entah mengapa hati ini rasanya menolak untuk kembali kepersinggahanku yang
sesungguhnya. Masih tertinggal rasa sebal, kesal sebenarnya itu yang membuat
aku tak ingin kembali. Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk menetap di
persinggahannya “L”. Rasa kesal, sebal ini mulai aku buang secara perlahan,
akhirnya aku bisa membuang perasaan semua itu. Alhamdulillah J.
And
the last time, kejadian yang memang tak pernah aku fikirkan akan terjadi
seperti ini, “adventure” itu yang telah membuat namaku jelek dihadapan ketua,
dan wakil ketua pun sepertinya memang dari awal sudah kecewa terhadapku karena
aku tidak bisa menjalankan amanat suci itu dengan baik, aku telah lalai dalam
memegang amanah suci ini, aku mulai malu, aku mulai tersadar, mungkin selama
ini aku tertidur dan kini akupun terbangun yah seperti pada dongeng putri
tidur. Aku mulai ingat bahwa aku sedang memikul sebuah organisasi sekaligus
memegang sebuah amanat suci dari beliau yang telah ditipkan kepadaku. Aku
benar-benar telah malu, aku malu aku malu pada diriku sendiri, aku menyesal
telah melakukan semua ini, fikirku sangat pendek tanpa memikirkan bagaimana
kedepannya, dan kedepannya ini hasilnya tenyata aku telah “gagal” untuk
dititipi sebuah amanah yang sangat besar ini. “memegang angkatanku sendiri saja
aku bahkan tak mampu, apalagi membawanya” batinku.
Tawaran
yang kedua pun masih tetap berlaku untukku sahut “F” kepadaku, akhirnya aku
memutuskan untuk kembali ke tempat persinggahanku yang sesungguhnya, bismillah
dengan rasa yang berat aku harus pergi meninggalkan tempat persinggahanku yang
telah memberikan aku tumpangan untuk bersinggah, sedih harus berpisah dari
teman-temanku yang selama ini telah mewarnai hari-hariku, tapi ini memang harus
aku lakukan karena aku tidak ingin terjebak terlalu dalam lagi. Aku takut Allah
akan murka kepadaku, begitu juga pondok. Aku ingat sekali perkataan yang sering
dikatakan ustadzah bagian pengasuhan ketika aku duduk dikelas 6 KMI “AL
MA’HAD MUQODDAS”. Kata-kata itu yang membuat aku takut untuk melakukan
hal ini kembali.
Dan
pada akhirnya aku kembali, ternyata tak sebanding dengan yang aku kira, aku
kembali dan posisiku saat ini berada ditengah-tengah 2 kubu yang saling
berjauhan, ku coba untuk mengetahui ada apa sebenarnya, apa yang terjadi
diantara kalian dan pada akhirnya aku mengetahuinya. Maaf aku harus memihak
kepada “F”, karena yah memang dari awal aku sudah sebal terhadap orang itu “D”,
sebal, kesal datang kembali setelah sekian lama aku kubur dan membuangnya
jauh-jauh. Dia yang telah memancingku, dia yang telah membuat api diantara
kami, dia yang selama ini aku kenal baik ternyata dibelakang dia melakukan
seperti itu kepadaku. COVER ITU BISA MENIPU yah ternyata, didepan berwajah lugu
dan dibelakang, entahlah aku malas membicarakan tentang hal ini.
Kini,
aku telah menjalani hari-hariku yang sebenarnya. Aku merasa nyaman, tentram
berada di persinggahanku yang sesungguhnya ini. Dan tiba saatnya pada saat itu
ada sebuah kompetisi perlombaan “shirah nabawiyyah” yang akan diadakan di unida
siman ponorogo. “Ini sebuah kesempatan pertama untukku, aku harus bisa
mengikutinya”. Batinku. akhirnya akupun memilih salah satu dari beberapa
perlombaan yang telah disediakan, yaitu “telling story”, aku memilih perlombaan
ini karena sebelumnya ketika aku duduk dibangku sekolah dasar aku pernah
mengikuti perlombaan untuk mewakili sekolahku yaitu lomba “telling story
contest&reading contest” yang bertempat di SMP AL MUTTAQIN TASIKMALAYA,
menang kalah itu sudah biasa didalam perlombaan, tetapi bukan hanya itu yang dinilai,
akan tetapi keberanian karena telah mau untuk mengikuti perlombaan ini. Singkat
saja, pada malam itu diadakan seleksi, aku telah berusaha untuk memberikan yang
terbaik pada saat itu, namun mungkin ini belum menjadi rezekiku dan kesempatan
juga untukku, tak mengapa aku tak berkecil hati yang terpenting aku telah
mencoba dan berpartisipasi untuk mengikutinya, sedih sih iya tapi aku tak boleh
berkecil hati akan semua ini, “mungkin akan ada rencana yang lebih indah
dari ini” batinku.
2
minggu keberadaanku disini, aku mulai merasa dan emang sangat flashback banget,
ternyata “A” & “M” yang kini dititipkan sebuah amanah untuk angkatanku ini.
“Ya Tuhan jujur saja aku sangat menyesal kepada diriku sendiri, kenapa ketika
itu aku menyia-nyiakan sebuah amanat ini, mengapa? Mengapa? Semua visi dan
misiku untuk mengokohkan pondasi merealisasikan darussalam university ini
hancur. Aku yang ketika waktu itu masih duduk di kelas 6 KMI dan emang niat
banget pengen bisa ngabdi disini, aku yang udah punya planning buat bisa majuin
kampus ini, aku yang bodoh, ini semua akibat dari perbuatanku sendiri. Mungkin
memang aku bukan siapa-siapa, aku bukan penggerak di angkatanku ketika masih
duduk di kelas 6 KMI, aku yang tak punya jabatan apa-apa, aku yang tak bisa
seperti mereka-mereka yang sekarang berada di kampung nan damai ini yang nomor
satu di angkatanku. Inilah aku dengan segala kekuranganku, dengan segala niat
baikku untuk kampus ini.
Rasa
sedih ini tak boleh aku tampakkan di depan mereka, walau bagaimanapun aku harus
tetap untuk mendukungnya dan memberinya semangat, mungkin ini yang terbaik.
Gontor selalu mengajarkan kepada para santri-santriwatinya untuk memiliki jiwa
“keikhlasan”, yang mana telah tertera dalam panca jiwa pondok modern. “InsyaAllah
ini pilihan yang terbaik, karena segala sesuatu telah di istikhorohkan” begitulah pesan singkat ayahanda dahulu
kepada kami.
Dengan
adanya segitiga emas ini bukan berarti ada perbedaan antara aku dengannya,
bukan berarti aku harus diam ditempat saja, bukan begitu, justru aku harus
membantu mereka dari belakang, kembali kepada prinsip awalku yaitu untuk
memajukan kampus ini. Bismillahirrahmanirrahim Ya Allah ridhloilah dan
mudahkanlah niat ini, jangan sampai salah niat! Amin
“ALLAHUMMA
LAA TAJ’ALNAA MINAL MUTAKABBIRATAN IDZAA NAJAHNA WAA LAA TAJ’ALNAA MINAL MUTAYAISATAN
IDZA KHOSARNA YA ALLAH”
“RABBANAA
ADKHILNA MIN JAMI’ATII DARISSALAM GUNTUR BIKHUSNUL KHOTIMAH WAA LAA TAKHTIM
LANA MINHU ILLAA BIKHUSNIL KHOTIMAH” AMIENN J