Minggu, 06 Desember 2015

hikmah dibalik sebuah peristiwa

Dulu amanat itu pernah aku emban dan sempat aku jalankan walaupun dengan penuh rasa takut, tapi pada saat itu aku yakin kalau aku bisa untuk menjalankan sebuah amanat itu, perlahan namun pasti butiran masalah terus menghampiri hidupku di tempat baru ini, dan pada saat itu hatiku berontak, aku sungguh tak kuasa untuk menahannya hingga aku putuskan untuk pergi menjauh dari mereka yang telah mengusik kehidupanku.
Aku menjalani hari-hariku penuh dengan kesedihan, sendiri itulah posisiku pada saat itu. Mungkin tak ada orang lain yang tahu apa yang aku rasakan pada waktu itu, namun perlahan aku membuka mulutku untuk sedikit bercerita kepada teman baruku yang berinisial “S”. Sedikit lega dan hampa hatiku pada saat itu.
The first journey in my life, akhirnya setelah beberapa minggu aku singgah disana, kini aku telah menemukan sosok teman yang baru yang dapat mengisi hari-hariku agar berubah menjadi berwarna kembali setelah beberapa hari ini pudar karena butiran-butiran masalah itu. Mungkin mengenal kalian merupakan anugerah terindah yang dikirim Allah untukku pada saat itu. Dengan watak, sifat, karakter yang berbeda-berbeda yang harus aku jalani. Canda, tawa, menyelimuti hari-hariku pada waktu itu.
Walaupun sering terjadi pertengkaran kecil, namun yang pada akhirnya tetap diantara kita harus ada yang mengalah, akhirnya kita bisa kembali seperti sedia kala, bisa diibaratkan seperti es batu yang lalu kemudian mencair, begitulah kita. Hari libur yaitu hari jum’at kami habiskan untuk mengisinya dengan “adventure” itu peribahasa kami. Dengan nyali yang sangat besar dan keyakinan yang sangat besar kami memutuskan untuk pergi kesebuah tempat yang mungkin memang orang lain jarang mengunjunginya termasuk para penghuni kampung nan damai ini.
Hari berganti hari, perubahanku semakin terlihat dan aku sadari itu semua, namun entahlah apa yang harus aku lakukan pada saat itu karena aku benar-benar bingung, sebal dan juga kesal. Perubahanku bukan menjadi yang lebih baik akan tetapi menjadi yang lebih buruk. Malas itu menjadi kunci utamaku, yah itu aku malas karena satu faktor itu sebutir masalah yang membuatku seperti ini.
Singkat saja, pemilhan kader himpunan mahasiswi pun akan diadakan pada malam itu, dalam hati kecilku ada rasa partisipasi untuk mengikuti interview dengan para senior-senior yag telah siap dengan segudang pertanyaan untuk para calon-calon kader penerus generasi berikutnya, yah memang ini sudah merupakan adat istiadat di kampung nan damai ini, “SIAP MEMIMPIN DAN SIAP DIPIMPIN”. Maka aku persiapkan diriku semaksimal mungkin agar aku bisa menjawab seluruh pertanyaan yang diberikan senior kepadaku, “PEDE”alias percaya diri itu kuncinya. Yah toh memang dari dulu aku kan pede orangnya, haha :D
Satu minggu setelah interview tiba-tiba ada sebuah surat di atas lemariku, dengan ucap “BASMALLAH” aku membukanya secara perlahan, telah tercantum dibagian berkop atas surat tertulis “SURAT PENGANGKATAN BAGIAN HIMPUNAN MAHASISWI” ananda Bella Yoriska Firdaus, perlahan aku baca hingga sampai di bagian tengah aku membaca sebuah tulisan yang bertuliskan namaku “Bella Yoriska Firdaus sebagai bagian keilmuan”. Betapa hati ini terkejut dan bahagia juga akhirnya apa yang aku inginkan bisa tercapai atas jerih payahku pada saat interview itu, yah intinya sih modal utamanya PEDE” haha :D
Hari telah berlalu, ketika sedang ada acara mingguan kampus di season terakhir namaku dan juga yang berinisial “F” dipanggil untuk menetap di musholla setelah acara selesai, deg hatiku bertanya-tanya “ada apa ya?” batinku. Rasa penasaran kini menghantuiku bersama dengan temanku. Dan pada akhirnya seperti biasa kakak senior chief of HM memberi tahu kami, bahwa kami mewakili semester 1 diutus untuk mengikuti acara kegiatan bakti sosial. Rasa kagum, bangga dan bahagia menyelimutiku pada saat itu, karena sesungguhnya aku memang tak akan pernah menyangka sebelumnya kalau aku terpilih dari beberapa teman-temanku yang lainnya. Aku teringat akan sebuah pesan dari ayahanda yaitu ustad hidayat, beliau pernah berkata: “kalian dipilih bukan karena kalian hebat, tetapi kalian dipilih karena kalian dipercaya!” . ini merupakan sebuah pengalaman baru untukku yang baru saja menginjakkan kakiku sebagai MAHASISWI, ternyata beginilah menjadi mahasiswi itu. Pada acara bakti sosial ini aku bisa menilai dan yah bisa dibilang untuk pelajaran agar kedepannya jika mengadakan acara tersebut, harus dengan persiapan dan kesiapan yang sangat matang. Di sini aku mulai bisa mengenal dan sekaligus berkenalan dengan kakak-kakak seniorku, ternyata jauh dari apa yang aku kira, mereka ternyata asik, baik, rame, kocak, de el el. Aku bahagia dan aku merasa senang bisa berkenalan dengan mereka. This is unforgetable experience for me J.
Hari-hariku lewati dengan persinggahan di tempat orang lain, terkadang aku iri, sedih, sebal kesal melihat kebersamaan mereka di tempat persinggahanku yang sebenarnya, “harusnya aku yang berada di tempat itu dan ikut bergabung didalamnya” batinku. Tapi apalah daya, sudahlah mungkin akan ada waktunya dimana aku akan menginjakkan kakiku dan kembali singgah di persinggahanku yang sebenarnya. Bagaimana hubunganku dengan teman-teman baruku? Satu persatu mereka pergi untuk kembali ketempat asalnya masing-masing. Tetapi aku tetap singgah di tempat itu bersama “I”, “Q”. Lama-kelamaan aku mulai merasa risih hidup bersama mereka, mungkin karena mereka terlahir sudah hidup royal kali ya... zzzz”.
Dan pada akhirnya yah memang mungkin harus diselesaikan butiran masalah itu, akhirnya aku memutuskan untuk menyelesaikannya. Memang pada saat itu aku tak punya modal apa-apa, tetapi hanya sebuah keyakinan dan kebenaran saja yang aku miliki pada waktu itu. Dengan tekad yang kuat akhirnya aku bisa menyelesaikan masalah ini. “F” menyuruhku untuk pulang ke persinggahan yang sebenarnya, namun entah mengapa hati ini rasanya menolak untuk kembali kepersinggahanku yang sesungguhnya. Masih tertinggal rasa sebal, kesal sebenarnya itu yang membuat aku tak ingin kembali. Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk menetap di persinggahannya “L”. Rasa kesal, sebal ini mulai aku buang secara perlahan, akhirnya aku bisa membuang perasaan semua itu. Alhamdulillah J.
And the last time, kejadian yang memang tak pernah aku fikirkan akan terjadi seperti ini, “adventure” itu yang telah membuat namaku jelek dihadapan ketua, dan wakil ketua pun sepertinya memang dari awal sudah kecewa terhadapku karena aku tidak bisa menjalankan amanat suci itu dengan baik, aku telah lalai dalam memegang amanah suci ini, aku mulai malu, aku mulai tersadar, mungkin selama ini aku tertidur dan kini akupun terbangun yah seperti pada dongeng putri tidur. Aku mulai ingat bahwa aku sedang memikul sebuah organisasi sekaligus memegang sebuah amanat suci dari beliau yang telah ditipkan kepadaku. Aku benar-benar telah malu, aku malu aku malu pada diriku sendiri, aku menyesal telah melakukan semua ini, fikirku sangat pendek tanpa memikirkan bagaimana kedepannya, dan kedepannya ini hasilnya tenyata aku telah “gagal” untuk dititipi sebuah amanah yang sangat besar ini. “memegang angkatanku sendiri saja aku bahkan tak mampu, apalagi membawanya” batinku.
Tawaran yang kedua pun masih tetap berlaku untukku sahut “F” kepadaku, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke tempat persinggahanku yang sesungguhnya, bismillah dengan rasa yang berat aku harus pergi meninggalkan tempat persinggahanku yang telah memberikan aku tumpangan untuk bersinggah, sedih harus berpisah dari teman-temanku yang selama ini telah mewarnai hari-hariku, tapi ini memang harus aku lakukan karena aku tidak ingin terjebak terlalu dalam lagi. Aku takut Allah akan murka kepadaku, begitu juga pondok. Aku ingat sekali perkataan yang sering dikatakan ustadzah bagian pengasuhan ketika aku duduk dikelas 6 KMI “AL MA’HAD MUQODDAS”. Kata-kata itu yang membuat aku takut untuk melakukan hal ini kembali.
Dan pada akhirnya aku kembali, ternyata tak sebanding dengan yang aku kira, aku kembali dan posisiku saat ini berada ditengah-tengah 2 kubu yang saling berjauhan, ku coba untuk mengetahui ada apa sebenarnya, apa yang terjadi diantara kalian dan pada akhirnya aku mengetahuinya. Maaf aku harus memihak kepada “F”, karena yah memang dari awal aku sudah sebal terhadap orang itu “D”, sebal, kesal datang kembali setelah sekian lama aku kubur dan membuangnya jauh-jauh. Dia yang telah memancingku, dia yang telah membuat api diantara kami, dia yang selama ini aku kenal baik ternyata dibelakang dia melakukan seperti itu kepadaku. COVER ITU BISA MENIPU yah ternyata, didepan berwajah lugu dan dibelakang, entahlah aku malas membicarakan tentang hal ini.
Kini, aku telah menjalani hari-hariku yang sebenarnya. Aku merasa nyaman, tentram berada di persinggahanku yang sesungguhnya ini. Dan tiba saatnya pada saat itu ada sebuah kompetisi perlombaan “shirah nabawiyyah” yang akan diadakan di unida siman ponorogo. “Ini sebuah kesempatan pertama untukku, aku harus bisa mengikutinya”. Batinku. akhirnya akupun memilih salah satu dari beberapa perlombaan yang telah disediakan, yaitu “telling story”, aku memilih perlombaan ini karena sebelumnya ketika aku duduk dibangku sekolah dasar aku pernah mengikuti perlombaan untuk mewakili sekolahku yaitu lomba “telling story contest&reading contest” yang bertempat di SMP AL MUTTAQIN TASIKMALAYA, menang kalah itu sudah biasa didalam perlombaan, tetapi bukan hanya itu yang dinilai, akan tetapi keberanian karena telah mau untuk mengikuti perlombaan ini. Singkat saja, pada malam itu diadakan seleksi, aku telah berusaha untuk memberikan yang terbaik pada saat itu, namun mungkin ini belum menjadi rezekiku dan kesempatan juga untukku, tak mengapa aku tak berkecil hati yang terpenting aku telah mencoba dan berpartisipasi untuk mengikutinya, sedih sih iya tapi aku tak boleh berkecil hati akan semua ini, “mungkin akan ada rencana yang lebih indah dari ini” batinku.
2 minggu keberadaanku disini, aku mulai merasa dan emang sangat flashback banget, ternyata “A” & “M” yang kini dititipkan sebuah amanah untuk angkatanku ini. “Ya Tuhan jujur saja aku sangat menyesal kepada diriku sendiri, kenapa ketika itu aku menyia-nyiakan sebuah amanat ini, mengapa? Mengapa? Semua visi dan misiku untuk mengokohkan pondasi merealisasikan darussalam university ini hancur. Aku yang ketika waktu itu masih duduk di kelas 6 KMI dan emang niat banget pengen bisa ngabdi disini, aku yang udah punya planning buat bisa majuin kampus ini, aku yang bodoh, ini semua akibat dari perbuatanku sendiri. Mungkin memang aku bukan siapa-siapa, aku bukan penggerak di angkatanku ketika masih duduk di kelas 6 KMI, aku yang tak punya jabatan apa-apa, aku yang tak bisa seperti mereka-mereka yang sekarang berada di kampung nan damai ini yang nomor satu di angkatanku. Inilah aku dengan segala kekuranganku, dengan segala niat baikku untuk kampus ini. 
Rasa sedih ini tak boleh aku tampakkan di depan mereka, walau bagaimanapun aku harus tetap untuk mendukungnya dan memberinya semangat, mungkin ini yang terbaik. Gontor selalu mengajarkan kepada para santri-santriwatinya untuk memiliki jiwa “keikhlasan”, yang mana telah tertera dalam panca jiwa pondok modern. “InsyaAllah ini pilihan yang terbaik, karena segala sesuatu telah di istikhorohkan”  begitulah pesan singkat ayahanda dahulu kepada kami.
Dengan adanya segitiga emas ini bukan berarti ada perbedaan antara aku dengannya, bukan berarti aku harus diam ditempat saja, bukan begitu, justru aku harus membantu mereka dari belakang, kembali kepada prinsip awalku yaitu untuk memajukan kampus ini. Bismillahirrahmanirrahim Ya Allah ridhloilah dan mudahkanlah niat ini, jangan sampai salah niat! Amin
“ALLAHUMMA LAA TAJ’ALNAA MINAL MUTAKABBIRATAN IDZAA NAJAHNA WAA LAA TAJ’ALNAA MINAL MUTAYAISATAN IDZA KHOSARNA YA ALLAH”
“RABBANAA ADKHILNA MIN JAMI’ATII DARISSALAM GUNTUR BIKHUSNUL KHOTIMAH WAA LAA TAKHTIM LANA MINHU ILLAA BIKHUSNIL KHOTIMAH” AMIENN J


hikmah dibalik sebuah peristiwa

Dulu amanat itu pernah aku emban dan sempat aku jalankan walaupun dengan penuh rasa takut, tapi pada saat itu aku yakin kalau aku bisa untuk menjalankan sebuah amanat itu, perlahan namun pasti butiran masalah terus menghampiri hidupku di tempat baru ini, dan pada saat itu hatiku berontak, aku sungguh tak kuasa untuk menahannya hingga aku putuskan untuk pergi menjauh dari mereka yang telah mengusik kehidupanku.
Aku menjalani hari-hariku penuh dengan kesedihan, sendiri itulah posisiku pada saat itu. Mungkin tak ada orang lain yang tahu apa yang aku rasakan pada waktu itu, namun perlahan aku membuka mulutku untuk sedikit bercerita kepada teman baruku yang berinisial “S”. Sedikit lega dan hampa hatiku pada saat itu.
The first journey in my life, akhirnya setelah beberapa minggu aku singgah disana, kini aku telah menemukan sosok teman yang baru yang dapat mengisi hari-hariku agar berubah menjadi berwarna kembali setelah beberapa hari ini pudar karena butiran-butiran masalah itu. Mungkin mengenal kalian merupakan anugerah terindah yang dikirim Allah untukku pada saat itu. Dengan watak, sifat, karakter yang berbeda-berbeda yang harus aku jalani. Canda, tawa, menyelimuti hari-hariku pada waktu itu.
Walaupun sering terjadi pertengkaran kecil, namun yang pada akhirnya tetap diantara kita harus ada yang mengalah, akhirnya kita bisa kembali seperti sedia kala, bisa diibaratkan seperti es batu yang lalu kemudian mencair, begitulah kita. Hari libur yaitu hari jum’at kami habiskan untuk mengisinya dengan “adventure” itu peribahasa kami. Dengan nyali yang sangat besar dan keyakinan yang sangat besar kami memutuskan untuk pergi kesebuah tempat yang mungkin memang orang lain jarang mengunjunginya termasuk para penghuni kampung nan damai ini.
Hari berganti hari, perubahanku semakin terlihat dan aku sadari itu semua, namun entahlah apa yang harus aku lakukan pada saat itu karena aku benar-benar bingung, sebal dan juga kesal. Perubahanku bukan menjadi yang lebih baik akan tetapi menjadi yang lebih buruk. Malas itu menjadi kunci utamaku, yah itu aku malas karena satu faktor itu sebutir masalah yang membuatku seperti ini.
Singkat saja, pemilhan kader himpunan mahasiswi pun akan diadakan pada malam itu, dalam hati kecilku ada rasa partisipasi untuk mengikuti interview dengan para senior-senior yag telah siap dengan segudang pertanyaan untuk para calon-calon kader penerus generasi berikutnya, yah memang ini sudah merupakan adat istiadat di kampung nan damai ini, “SIAP MEMIMPIN DAN SIAP DIPIMPIN”. Maka aku persiapkan diriku semaksimal mungkin agar aku bisa menjawab seluruh pertanyaan yang diberikan senior kepadaku, “PEDE”alias percaya diri itu kuncinya. Yah toh memang dari dulu aku kan pede orangnya, haha :D
Satu minggu setelah interview tiba-tiba ada sebuah surat di atas lemariku, dengan ucap “BASMALLAH” aku membukanya secara perlahan, telah tercantum dibagian berkop atas surat tertulis “SURAT PENGANGKATAN BAGIAN HIMPUNAN MAHASISWI” ananda Bella Yoriska Firdaus, perlahan aku baca hingga sampai di bagian tengah aku membaca sebuah tulisan yang bertuliskan namaku “Bella Yoriska Firdaus sebagai bagian keilmuan”. Betapa hati ini terkejut dan bahagia juga akhirnya apa yang aku inginkan bisa tercapai atas jerih payahku pada saat interview itu, yah intinya sih modal utamanya PEDE” haha :D
Hari telah berlalu, ketika sedang ada acara mingguan kampus di season terakhir namaku dan juga yang berinisial “F” dipanggil untuk menetap di musholla setelah acara selesai, deg hatiku bertanya-tanya “ada apa ya?” batinku. Rasa penasaran kini menghantuiku bersama dengan temanku. Dan pada akhirnya seperti biasa kakak senior chief of HM memberi tahu kami, bahwa kami mewakili semester 1 diutus untuk mengikuti acara kegiatan bakti sosial. Rasa kagum, bangga dan bahagia menyelimutiku pada saat itu, karena sesungguhnya aku memang tak akan pernah menyangka sebelumnya kalau aku terpilih dari beberapa teman-temanku yang lainnya. Aku teringat akan sebuah pesan dari ayahanda yaitu ustad hidayat, beliau pernah berkata: “kalian dipilih bukan karena kalian hebat, tetapi kalian dipilih karena kalian dipercaya!” . ini merupakan sebuah pengalaman baru untukku yang baru saja menginjakkan kakiku sebagai MAHASISWI, ternyata beginilah menjadi mahasiswi itu. Pada acara bakti sosial ini aku bisa menilai dan yah bisa dibilang untuk pelajaran agar kedepannya jika mengadakan acara tersebut, harus dengan persiapan dan kesiapan yang sangat matang. Di sini aku mulai bisa mengenal dan sekaligus berkenalan dengan kakak-kakak seniorku, ternyata jauh dari apa yang aku kira, mereka ternyata asik, baik, rame, kocak, de el el. Aku bahagia dan aku merasa senang bisa berkenalan dengan mereka. This is unforgetable experience for me J.
Hari-hariku lewati dengan persinggahan di tempat orang lain, terkadang aku iri, sedih, sebal kesal melihat kebersamaan mereka di tempat persinggahanku yang sebenarnya, “harusnya aku yang berada di tempat itu dan ikut bergabung didalamnya” batinku. Tapi apalah daya, sudahlah mungkin akan ada waktunya dimana aku akan menginjakkan kakiku dan kembali singgah di persinggahanku yang sebenarnya. Bagaimana hubunganku dengan teman-teman baruku? Satu persatu mereka pergi untuk kembali ketempat asalnya masing-masing. Tetapi aku tetap singgah di tempat itu bersama “I”, “Q”. Lama-kelamaan aku mulai merasa risih hidup bersama mereka, mungkin karena mereka terlahir sudah hidup royal kali ya... zzzz”.
Dan pada akhirnya yah memang mungkin harus diselesaikan butiran masalah itu, akhirnya aku memutuskan untuk menyelesaikannya. Memang pada saat itu aku tak punya modal apa-apa, tetapi hanya sebuah keyakinan dan kebenaran saja yang aku miliki pada waktu itu. Dengan tekad yang kuat akhirnya aku bisa menyelesaikan masalah ini. “F” menyuruhku untuk pulang ke persinggahan yang sebenarnya, namun entah mengapa hati ini rasanya menolak untuk kembali kepersinggahanku yang sesungguhnya. Masih tertinggal rasa sebal, kesal sebenarnya itu yang membuat aku tak ingin kembali. Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk menetap di persinggahannya “L”. Rasa kesal, sebal ini mulai aku buang secara perlahan, akhirnya aku bisa membuang perasaan semua itu. Alhamdulillah J.
And the last time, kejadian yang memang tak pernah aku fikirkan akan terjadi seperti ini, “adventure” itu yang telah membuat namaku jelek dihadapan ketua, dan wakil ketua pun sepertinya memang dari awal sudah kecewa terhadapku karena aku tidak bisa menjalankan amanat suci itu dengan baik, aku telah lalai dalam memegang amanah suci ini, aku mulai malu, aku mulai tersadar, mungkin selama ini aku tertidur dan kini akupun terbangun yah seperti pada dongeng putri tidur. Aku mulai ingat bahwa aku sedang memikul sebuah organisasi sekaligus memegang sebuah amanat suci dari beliau yang telah ditipkan kepadaku. Aku benar-benar telah malu, aku malu aku malu pada diriku sendiri, aku menyesal telah melakukan semua ini, fikirku sangat pendek tanpa memikirkan bagaimana kedepannya, dan kedepannya ini hasilnya tenyata aku telah “gagal” untuk dititipi sebuah amanah yang sangat besar ini. “memegang angkatanku sendiri saja aku bahkan tak mampu, apalagi membawanya” batinku.
Tawaran yang kedua pun masih tetap berlaku untukku sahut “F” kepadaku, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke tempat persinggahanku yang sesungguhnya, bismillah dengan rasa yang berat aku harus pergi meninggalkan tempat persinggahanku yang telah memberikan aku tumpangan untuk bersinggah, sedih harus berpisah dari teman-temanku yang selama ini telah mewarnai hari-hariku, tapi ini memang harus aku lakukan karena aku tidak ingin terjebak terlalu dalam lagi. Aku takut Allah akan murka kepadaku, begitu juga pondok. Aku ingat sekali perkataan yang sering dikatakan ustadzah bagian pengasuhan ketika aku duduk dikelas 6 KMI “AL MA’HAD MUQODDAS”. Kata-kata itu yang membuat aku takut untuk melakukan hal ini kembali.
Dan pada akhirnya aku kembali, ternyata tak sebanding dengan yang aku kira, aku kembali dan posisiku saat ini berada ditengah-tengah 2 kubu yang saling berjauhan, ku coba untuk mengetahui ada apa sebenarnya, apa yang terjadi diantara kalian dan pada akhirnya aku mengetahuinya. Maaf aku harus memihak kepada “F”, karena yah memang dari awal aku sudah sebal terhadap orang itu “D”, sebal, kesal datang kembali setelah sekian lama aku kubur dan membuangnya jauh-jauh. Dia yang telah memancingku, dia yang telah membuat api diantara kami, dia yang selama ini aku kenal baik ternyata dibelakang dia melakukan seperti itu kepadaku. COVER ITU BISA MENIPU yah ternyata, didepan berwajah lugu dan dibelakang, entahlah aku malas membicarakan tentang hal ini.
Kini, aku telah menjalani hari-hariku yang sebenarnya. Aku merasa nyaman, tentram berada di persinggahanku yang sesungguhnya ini. Dan tiba saatnya pada saat itu ada sebuah kompetisi perlombaan “shirah nabawiyyah” yang akan diadakan di unida siman ponorogo. “Ini sebuah kesempatan pertama untukku, aku harus bisa mengikutinya”. Batinku. akhirnya akupun memilih salah satu dari beberapa perlombaan yang telah disediakan, yaitu “telling story”, aku memilih perlombaan ini karena sebelumnya ketika aku duduk dibangku sekolah dasar aku pernah mengikuti perlombaan untuk mewakili sekolahku yaitu lomba “telling story contest&reading contest” yang bertempat di SMP AL MUTTAQIN TASIKMALAYA, menang kalah itu sudah biasa didalam perlombaan, tetapi bukan hanya itu yang dinilai, akan tetapi keberanian karena telah mau untuk mengikuti perlombaan ini. Singkat saja, pada malam itu diadakan seleksi, aku telah berusaha untuk memberikan yang terbaik pada saat itu, namun mungkin ini belum menjadi rezekiku dan kesempatan juga untukku, tak mengapa aku tak berkecil hati yang terpenting aku telah mencoba dan berpartisipasi untuk mengikutinya, sedih sih iya tapi aku tak boleh berkecil hati akan semua ini, “mungkin akan ada rencana yang lebih indah dari ini” batinku.
2 minggu keberadaanku disini, aku mulai merasa dan emang sangat flashback banget, ternyata “A” & “M” yang kini dititipkan sebuah amanah untuk angkatanku ini. “Ya Tuhan jujur saja aku sangat menyesal kepada diriku sendiri, kenapa ketika itu aku menyia-nyiakan sebuah amanat ini, mengapa? Mengapa? Semua visi dan misiku untuk mengokohkan pondasi merealisasikan darussalam university ini hancur. Aku yang ketika waktu itu masih duduk di kelas 6 KMI dan emang niat banget pengen bisa ngabdi disini, aku yang udah punya planning buat bisa majuin kampus ini, aku yang bodoh, ini semua akibat dari perbuatanku sendiri. Mungkin memang aku bukan siapa-siapa, aku bukan penggerak di angkatanku ketika masih duduk di kelas 6 KMI, aku yang tak punya jabatan apa-apa, aku yang tak bisa seperti mereka-mereka yang sekarang berada di kampung nan damai ini yang nomor satu di angkatanku. Inilah aku dengan segala kekuranganku, dengan segala niat baikku untuk kampus ini. 
Rasa sedih ini tak boleh aku tampakkan di depan mereka, walau bagaimanapun aku harus tetap untuk mendukungnya dan memberinya semangat, mungkin ini yang terbaik. Gontor selalu mengajarkan kepada para santri-santriwatinya untuk memiliki jiwa “keikhlasan”, yang mana telah tertera dalam panca jiwa pondok modern. “InsyaAllah ini pilihan yang terbaik, karena segala sesuatu telah di istikhorohkan”  begitulah pesan singkat ayahanda dahulu kepada kami.
Dengan adanya segitiga emas ini bukan berarti ada perbedaan antara aku dengannya, bukan berarti aku harus diam ditempat saja, bukan begitu, justru aku harus membantu mereka dari belakang, kembali kepada prinsip awalku yaitu untuk memajukan kampus ini. Bismillahirrahmanirrahim Ya Allah ridhloilah dan mudahkanlah niat ini, jangan sampai salah niat! Amin
“ALLAHUMMA LAA TAJ’ALNAA MINAL MUTAKABBIRATAN IDZAA NAJAHNA WAA LAA TAJ’ALNAA MINAL MUTAYAISATAN IDZA KHOSARNA YA ALLAH”
“RABBANAA ADKHILNA MIN JAMI’ATII DARISSALAM GUNTUR BIKHUSNUL KHOTIMAH WAA LAA TAKHTIM LANA MINHU ILLAA BIKHUSNIL KHOTIMAH” AMIENN J